Kehadiran Komika Wawan Saktiawan Menambah Semarak Peringatan Hari Guru YPIT Mutiara Hati Malang
December 22, 2022
Show all

Ibu, Pejuang Sepanjang Zaman

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

 Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara

Kasih yang engkau berikan

Tak mampu ‘ku membalas

Ibu, Ibu

Ingin kudekap dan menangis di pangkuanmu

Sampai aku tertidur

Bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas

Ibu,Ibu

Begitu banyak lirik lagu, syair maupun puisi yang bercerita tentang sosok Ibu. Dapat dipastikan, di dalamnya selalu digambarkan tentang pengorbanan seorang Ibu. Ya, Ibu adalah seorang pejuang, Ibu senantiasa ada dalam setiap keadaan, Ibu selalu rela berkorban, Ibu tak pernah kenal lelah, Ibu berjaga sepanjang waktu, Ibu, wanita berjiwa tangguh, Ibu adalah pejuang sepanjang zaman.

Perjuangan yang dilakukan seorang Ibu bukan tanpa sebab. Dengan sebab cinta, seorang Ibu rela menempuh segala usaha demi keberhasilan anaknya. Besar kecil pengorbanan yang ia diberikan, tak lain karena dorongan sebuah alasan. Amanah dan tanggung jawabnya kepada Sang Maha Pencipta, menjadi alasan utama baginya untuk merelakan apapun yang ia punya, demi kebaikan anaknya.

Di dalam Al Quran, Allah telah menampilkan kisah-kisah heroik seorang Ibu. Di antaranya adalah peristiwa kelahiran Nabi Isa as, tanpa seorang ayah. Kelahiran Nabi Isa as, menjadi berita yang menggemparkan. Bagaimana mungkin seorang anak terlahir tanpa bapak?. Ibunda Nabi Isa as, Maryam mendapatkan tuduhan, celaan, dan hinaan. Dapat kita bayangkan, seperti apa hati dan perasaan seorang perempuan ketika menemui kenyataan yang demikian. Namun begitu, di tengah-tengah keadaan yang sangat tidak menyenangkan, Maryam menjaga kesabarannya. Maryam tetap mampu melaksanakan perannya sebagai Ibu, mencurahkan seluruh kasih sayangnya kepada sang putra. Hingga akhirnya, peristiwa menakjubkan terjadi. Nabi Isa as yang masih bayi dan berada di dalam gendongan ibundanya, tiba-tiba dapat berbicara. Ia bercerita di tengah kaum yang mengolok-olok ibunya, bahwa kelahirannya adalah bukti kebesaran Allah SWT.

Kisah heroik lainnya, adalah saat Nabi Ismail as ditinggal bersama ibunya di padang tandus. Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim as harus meninggalkan Nabi Ismail yang masih bayi bersama ibunya, Hajar di Mekkah. Ketika Hajar mengetahui bahwa hal itu adalah perintah Allah, maka ia menerimanya dengan kerelaan hati. Hajar berpasrah diri. Di tengah suasana terik matahari dan kehausan, ia berjuang untuk mendapatkan air. Ia berlari ke sana kemari, berusaha sekuat tenaga mencari air. Ia terus berlari dari Shafa ke Marwa, hingga 7 kali bolak balik. Di puncak kelemahannya, Allah memberikan pertolongan kepada Hajar, sebagai hadiah yang begitu indah. Hajar, ibu yang tak kenal lelah.

Bagi seorang Ibu, perjuangan adalah sebuah kepastian. Perjuang merupakan jalan untuk mengekspresikan rasa cintanya kepada sang anak. Lelah, letih, suka, duka, do’a, air mata dan segala bentuk pengorbanan yang ia berikan adalah bukti keimanan.

Mari sejenak, kita mengingat sosok Ibu kita di masa dulu. Saat mengasuh, mendidik dan membesarkan kita, mereka tidak pernah mengeluh sedikitpun. Mereka menjalankan perannya dengan begitu indah, begitu sempurna hingga mampu menorehkan sejarah dalam perjalanan hidup kita. Maka, wahai engkau yang saat ini bergelar Ibu, kokohkan keimananmu, kuatkan kesabaranmu. Jadilah pejuang yang tangguh, agar tidak melahirkan generasi yang rapuh.

Ditulis oleh: Teacher Sriati, S.Pd. (Wakil Kepala Bidang Kurikulum SDIT Mutiara Hati Malang)