edisi 8 bulan maret 2021
April 6, 2021
Show all

Orang Tua Sebagai Nahkoda Hingga Sampai ke Pelabuhan

Oleh: Teacher Endah Susanti, S.TP, S.Pd

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Bersyukurlah kepada Ayah Bunda yang berkesempatan Allah titipkan putra-putri dalam pelukannya. Dengan modal rasa syukur inilah yang akan menjadikan kita untuk senantiasa menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

Menjadi orang tua yang bijak memang tidaklah mudah. Bahkan kita harus senantiasa mengupgrade diri agar sesuai pada jalur yang telah Allah tuntunkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Tentunya kita sepakat bahwa tujuan dalam pendidikan dan pengasuhan putra-putri kita supaya mereka menjadi pribadi yang alim (berilmu) dan berakhlaq mulia.

Sebagaimana dalam sebuah hadits sahih muslim: “Setiap anak lahir dalam keadaan suci, dan orangtuanyalah yang membuatnya jadi Yahudi, Kristen atau Majusi.”

Allah ciptakan anak-anak dalam keadaan fitrah/suci, dengan kecenderungan selalu melakukan perbuatan yang baik. Tetapi dalam perjalanannya, seorang anak menunjukkan perilaku yang kurang baik atau bahkan tidak baik, misalnya “berani” kepada orang tua. Hal ini sebaiknya tidak buru-buru menyalahkan anak. Karena bisa jadi dia melakukan hal itu sebagai bentuk mempertahankan haknya atau sedang membela diri atas perlakuan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Apakah yang seharusnya orang tua lakukan ketika hal ini terjadi kepada anak-anak kita?

Berikut beberapa hal yang harus kita lakukan saat anak sering kali menunjukkan perilaku yang tidak baik:

  1. Mohon ampun kepada Allah.

Bisa jadi selama ini tanpa kita sadari, kita telah melakukan hal-hal yang Allah tidak ridho. Atau kita pernah mendidik anak tidak sesuai dengan yang Allah tuntunkan. Dengan mengembalikan setiap urusan kepada Allah niscaya Allah akan memberikan petunjuk dan memudahkan urusan kita. Bukankah Allah berikan masalah sudah lengkap beserta solusinya? Bukankah setiap kesulitan ada kemudahan?

  1. Minta maaf kepada anak.

Jangan pernah merasa “gengsi” untuk meminta maaf kepada anak kita. Karena kesalahan atau kekhilafan bisa juga terjadi pada orang tua. Maka sudah semestinya orang tua yang minta maaf kepada anak. Mungkin kita adalah orang tua yang sibuk bekerja sehingga waktu untuk mendampingi tumbuh kembang anak sangatlah kurang atau bahkan tidak punya sisa waktu untuk membersamai anak-anak kita. Atau kita punya banyak waktu di rumah, bahkan setiap hari bersama anak kita, tetapi hati kita tidak tidak bersama mereka. Sehingga hubungan kedekatan orang tua dan anak-anak tidak tercipta. Hal ini menyebabkan anak menjadi lebih dekat dengan temannya atau orang lain yang ia anggap lebih menyenangkan diajak ngobrol atau berbagi. Atau bisa jadi anak lebih akrab dengan gawai/HP nya dari pada dengan orang tuanya. Bagaimana perasaan orang tua, jika anak yang kita sayangi, darah daging kita tidak dekat ikatan hatinya dengan kita? Tentu sangat sedih. Dengan meminta maaf kepada anak, kita mengakui kesalahan kita dan berjanji akan lebih perhatian kepada mereka.

  1. Memperbaiki hubungan

Sepertinya memperbaiki lebih susah daripada memulai. Tetapi tidak ada pilihan, mundur beberapa langkah untuk kembali ke jalan yang benar (taubat) adalah cara terbaik yang Allah cintai. Perlu kita jelaskan kepada anak kita bahwa sebagai seorang anak harus berbakti kepada orang tuanya.

Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Isra’ ayat 23:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”

Atas dasar ketakwaan kita kepada Allah dan kasih sayang kita kepada anak, tentunya kita tidak rela jika anak kita (terutama yang sudah baligh) sampai melakukan perilaku tidak baik yang Allah murkai. Apakah sebutan bagi anak yang berani membentak atau bahkan berperilaku tidak baik terhadap orang tua yang menimbulkan sakit hati bagi ibu/ bapaknya? Durhaka, naudzubillahimindzalik. Tentu hal itu sangat tidak kita harapkan. Untuk itu, sebagai orang tua, kita ingin menyelamatkan anak-anak kita tercinta dari siksa api neraka.

Keluarga ibarat kapal yang sedang berlabuh. Ayah memiliki peran sebagai nahkoda dan ibu sebagai pendamping nahkoda yang sudah semestinya searah tujuannya dengan nahkoda. Sedangkan anak-anak adalah para penumpang kapal. Sehingga orang tua selalu memegang kendali dalam perjalanan kehidupan sampai selesai tanggung jawab pengasuhan anak.

Dalam QS. At-Tahrim ayat 6, Allah Berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Jadi, bukan orang tua yang selalu menuruti keinginan anak. Tetapi anaklah yang harus mentaati aturan orang tua. Tentunya aturan dalam setiap keluarga tidak sama. Dan aturan dibuat dengan kesepakatan bersama antara orang tua dan anak atau seluruh anggota keluarga. Dalam membuat aturan inilah yang harus sesuai dengan koridor keIslaman.

Nah, jika kita mendambakan anak yang senantiasa berbakti kepada orang tua, selalu menyejukkan hati, maka sudah seyogyanya kita pun menjadi orang tua yang sholih/ sholihah yang menjadi teladan bagi anak-anak kita.

Wallahu ‘alam bishowab.